“Operasi Negasi”; dirilis sebagai Reaksi ASAM Terhadap Periode Ketidaktentuan dan Ketakberdayaan

“Operasi Negasi”; dirilis sebagai Reaksi ASAM Terhadap Periode Ketidaktentuan dan Ketakberdayaan

Artwork didapatkan dari siaran pers. Kredit: Colman Doyle.

“Operasi Negasi” adalah single terbaru ASAM bercorak Electronic Body Music yang berat. Dirilis di masa pandemi COVID 19, kala periode ketidaktentuan dan ketakberdayaan menerpa hampir semua orang, hal tersebut menginspirasi ASAM untuk menciptakan lagu ini. Mereka menggandeng Zara Zahrina, eks-vokalis band punk rock Nonanoskins dan Firzi O untuk sumbang suara dalam single ini.

ASAM adalah duo musik elektronik yang mengawali style-nya lewat spektrum musik techno, menghantui lantai dansa di Ibukota sejak 2015 lalu. Digawangi oleh Catra Darusman dan Aditya Prayoga, ASAM telah merilis beberapa singles dan remixes. “Antitesis”, “Totalitarian”, dan “Operasi Negasi” adalah tiga nomor terakhir ASAM yang menunjukkan keluasan eksplorasi duo ini di lantai dansa. ASAM merilis karyanya melalui label Dead Records/Deadrec.

Single “Operasi Negasi” merupakan episode lanjutan dari ASAM, setelah track “Totalitarian” mengumandang pada Januari 2020 lalu. Track elektronik yang ramah publik rock ini bisa disebut sebagai versi agresif dari “Totalitarian”, dengan warna EBM yang kental, dari awal hingga akhir lagu.

Ramu-meramu bebunyian yang bersumber dari intrumen synths hasil dikonstruksi sedemikian rupa sepanjang track “Operasi Negasi” merupakan elemen utama, demi menghantarkan vibe yang ‘heavy’. Sejalan dengan single sebelumnya, dua kesatuan formula magis di balik ASAM ingin berangkat sedikit berjarak dari gambaran klub yang berpendar-berkilauan melalui noise dan kicks yang tegas, serta balutan mix vokal yang seakan mengerubungi pendengar. Secara kontras, apabila track ini dibawa ke lantai dansa, niscaya “Operasi Negasi” akan memberikan pengalaman rock yang paripurna di segala sisi.

Secara konsepsi, “Operasi Negasi” berisi kegusaran pada masa ketidaktentuan dan ketakberdayaan, khususnya saat masa pandemi COVID-19 melanda dunia. Catra Darusman merunutkan bahwa jika “Totalitarian” adalah bentuk perlawanan, sedangkan “Operasi Negasi” diarahkan untuk melawan kembali, tapi terjebak dalam ketakberdayaan yang absolut.

Corak EBM yang disuguhkan ASAM di single ini diakui Catra sebagi eksperimen untuk mewakili kemarahan dan kenihilan. Tolak ukur pemilihan tempo (sekitar 110 BPM) juga mempengaruhi bagaimana lagu ini kemudian mampu direpresentasikan sebagai negasi dari kebrutalan. Tertangkap dan terekam cermat, meskipun hal ini sedikit merubah apa yang biasa dilakukan ASAM, di mana biasanya lagu-lagu milik asam bertempo 130 BPM, “namun energi kemarahan dan nihilismenya nggak berhasil ter-capture,” Catra menjelaskan.

Proses rekaman “Operasi Negasi” dilakukan di Studio Masak Suara, Lebak Bulus, Jakarta sejak awal Maret 2020, tepat sebelum masa karantina COVID-19 (PSBB). Sampai Juni lalu, proses mixing dan mastering dilakukan secara online.

Demi merealisasikan sengatan penuh amarah dan nihilis nan pekat, dalam “Operasi Negasi” ASAM mengajak kolaborasi dua orang yang dirasa kompeten dengan konsep dan tema lagu mereka. Di wilayah vokal, ASAM mengajak Zara Zahrina a.k.a Skeletale. Diakui Zara, dia senang dapat terlibat di proyek “Operasi Negasi”, mengingat ASAM mengalami delay release yang lumayan lama. “Saya nggak menyangka bahwa ASAM memproduksi track yang mengedepankan vokal di sini.”

Bagi ASAM, Zara dianggap mewakili topik yang diangkat di dalam “Operasi Negasi”. Diakui Catra pula, persona Zara pas dengan gaya musik ASAM. Begitu pula energi Zara di band lamanya, Nonanoskins, yang terasa cocok dengan spirit ASAM secara umum.

Di “Operasi Negasi”, produksi juga digawangi bersama sound engineer dari Analog Couple, Firzi O. Bersama ASAM, Firzi juga menentukan berbagai aspek teknis demi mendapat konstruksi sonik yang diharapkan. Keterlibatan Firzi menambah intensitas rekaman “Operasi Negasi”, seperti pemilihan sound yang detail untuk setiap bagian di lagu tersebut.

Menemukan karakter drum dan kompresi style yang cocok diakui ASAM lumayan mengonsumsi energi, sampai mendapatkan ‘tendangan’ yang pas di telinga. Polesan terakhir dari segi artwork menggunakan hasil tangkapan kamera fotografer veteran asal Irlandia, Colman Doyle yang memperlihatkan seorang prajurit wanita relawan IRA (Irish Republican Army) menenteng  senapan serbu AR 18.

BACA JUGA - 2 Lagu Sekaligus Dilepas Oleh Roadblock Dub Collective

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner