Pulang dari Kanada, Bias Rilis Single

Pulang dari Kanada, Bias Rilis Single "Ke Barat"

Foto dan artwork didapatkan dari siaran pers.

Banyak musisi yang tidak bisa bertahan lama di Kota Jogja untuk sekadar berdamai dengan kebutuhan hidup (baca: UMP terendah se-Indonesia) sembari memainkan musik yang mereka suka. Ada yang lantas bergegas pergi meninggalkan kota, merapikan kopernya, membawa serta alat musik mereka, mencoba peruntungan di kota lain atau tetap tinggal dan melakoni dua bidang sekaligus sebagai penyumbang pundi-pundi demi melanggengkan ego berkeseniannya. Tidak sedikit juga mereka yang bertahan setelah lulus jenjang pendidikan harus piawai dalam menyiasati diri supaya tidak ditarik dealer, istilah ‘disuruh pulang ke rumah orang tua’ yang sering terucap di kalangan muda-mudi kota Gudeg.

Bias adalah generasi terkini dan salah satu band Jogja yang memutuskan tetap keras kepala memilih bertahan meskipun sebagian dari mereka tercatat sebagai "tukang insinyur". Agung Gabres (gitar), Billi Billy (bas), dan Rudi Anduk (drum & vokal) sepakat bersekutu untuk tetap berjalan bersama kugiran yang terbentuk tahun 2015 ini. Trio yang mendapuk diri mereka dengan aliran berdistorsi kotor – grunge / alternative ini meracik formula musik mereka dengan benang merah lintas genre yang lain sempat populer di era 1990-an, seperti; shoegaze dan post hardcore. Bukan tanpa alasan grunge dipilih, Bias merasa jenis musik ini adalah simbol pemberontakan dan pelanggar aturan baku dalam budaya bermusik. Pakem bermusik dilibas oleh Bias, di mana alunan vokal cenderung melodik, disisip riff gitar yang manis, gebukan terdengar seadanya hanya sebagai pengiring dan bass yang menegaskan nada  serta sebagai pondasi lagu mereka. Namun, banyak juga dominasi suara-suara teriakan vokal, riff gitar berdistorsi padat, dengan drum yang menghentak. Tegas dan berat.

Dikutip dari isi profil mereka, “tantangannya adalah bagaimana menjembatani / memadukan dua gaya musik yang berbeda tersebut dalam sebuah lagu namun masih memenuhi kebutuhan estetika pendengar.”

“Secara garis besar, musik Bias sangat dipengaruhi oleh band-band tahun '90-an yang kemudian di-twist ala kami sendiri dengan hooks dan riff yang catchy, plus nada murung dengan judul yang menyedihkan” ungkap mereka mengenai musik yang diusungnya seturut isi siaran pers.

Memiliki arti “berbelok dari arah”, Bias yang mengukuhkan diri dengan konsep lintas genre-nya  memberikan kebebasan setiap personel dalam mengkomposisi karya-karya yang mereka buat. Terekam jelas mulai dari suguhan alunan “Overdosis Visual” yang bernuansa trippy membuat mabuk, sampai ke “Magnolia” – Bias tidak sungkan untuk menjajaki segala tempo. Rudi sang vokalis pun mendapatkan porsi lebih dengan suara vokalnya yang mumpuni dalam menjangkau segala teknik, mulai dari melodius hingga ke screaming a la band-band post hardcore sembari tetap konsisten di lini belakang kala menggembuk seperangkat drum miliknya.

Meski ukiran berkesenian mereka cukup senyap, gerilya, usaha dan buah konsistensi mereka tidak sia-sia. Kepiawaian mereka bertiga dalam bermusik pun diganjar dengan memenangi kompetisi Planetrox 2019. Lewat kompetisi inilah kemudian memberikan mereka kesempatan untuk dapat mewakili Indonesia di Festival Musik Envol et Macadam yang dihelat di Quebec City, Kanada pada 5 September 2019 lalu. 

Trio yang 2017 lalu sudah merilis EP berjudul Basabasi - yang merupakan rilisan fisik pertama mereka yang diproduksi secara independen baik dari editing, mixing, dan mastering track, design grafis, fotografi, packaging dan distribusi – dan September 2018, merilis Studio Live Session di platform YouTube. Bertempat di Jogja Audio School, Bias membawakan dua lagu dari EP Basabasi yaitu “24 Karat" dan "Koboi". Bersamaan dengan konten Studio Live Session, mereka juga merilis beberapa demo materi lagu baru di Bandcamp, diantaranya "Lulabi", "Overdosis Visual", dan "Selir Pemberontak".

Sepulangnya dari Kanada, Bias pun memutuskan untuk merilis single baru yang berjudul “Ke Barat”. Video musiknya sudah dirilis pada 14 Februari 2020 melalui kanal YouTube mereka dan disusul di platform digital Bandcamp dan platform lainnya.

BACA JUGA - “Dikejar Setan” dan Memori Masa Kecil Kelompok Penerbang Roket

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner