Tidak Puas Dengan Fomat Kaset, Extreme Decay Luncurkan ‘Antiviral’ 7”
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Extreme Decay
Isu yang diangkat Extreme Decay di album Antiviral seputar kultur media sosial yang tidak sehat, pemujaan dunia selebritas, kultus idol, serta obsesi manusia akan status pengakuan dan hedonisme
Pencita musik Grindcore pasti sudah tidak asing dengan nama Extreme Decay. Unit Grindcore yang terbentuk di kota Malang pada tahun 1998. Sejak awal karirnya, mereka sudah langsung memproduksi berbagai karya rekaman dalam berbagai format. Selama lebih dari dua dekade berdiri, Extreme Decay telah merilis beberapa album melalui berbagai label rekaman di Indonesia maupun luar negeri, termasuk sejumlah proyek album split dan kompilasi internasional.
Extreme Decay saat ini digawangi oleh Ravi (gitar/vokal), Ruli (gitar/vokal), Nizar (bass/vokal), dan Eko (drum/vokal). Mereka baru saja merilis mini album bertajuk Antiviral dalam format piringan hitam berukuran tujuh inci melalui label Samstrong Records. Titel Antiviral diambil dari salah satu judul lagu Extreme Decay yang juga termuat dalam EP tersebut, “Antiviral”. Lagu ini terinspirasi dari film berjudul sama yang pernah ditonton Ravi sang penulis musik dan lirik lagu tersebut. Isu yang diangkat seputar kultur media sosial yang tidak sehat, pemujaan dunia selebritas, kultus idol, serta obsesi manusia akan status pengakuan dan hedonisme.
Lagu-lagu lainnya pun tidak kalah menarik dari segi penulisan, seperti misalnya “Kolaps” yang bercerita soal keruntuhan planet bumi akibat bencana ekologi. Lalu ada juga “Mendakwa Otak” yang berkisah soal arogansi kebenaran dan penghakiman tanpa nalar, “Skeptik Tank” tentang praktek vampirisme pada dunia nyata di sekitar, “Invasi Pengerat” yang bertutur soal tindak oportunis dan sosok kanibal bagi sesama manusia, “Merapal Lapar” yang menyoal kesenjangan sosial ekonomi masyarakat tertindas, serta “Kolaps” versi remix dari Indra Menus yang berlimpah bunyi-bunyian drone dan doom yang berisik di sekujur lagu.
Mini album Antiviral merupakan bagian dari proses rekaman musik terbaru Extreme Decay di Natural Studio (Surabaya) pada tanggal 12-13 Juni 2021. Sang pemilik studio, Irwan, yang bertindak selaku sound engineer dalam proses rekaman selama dua shift tersebut dengan supervisi penuh dari personel Extreme Decay. Materi mini album Antiviral dalam format piringan hitam ini juga telah mengalami proses remixed dan remastered yang dikerjakan oleh Yobbi Ananta di Grim Studio (Jakarta) pada tanggal 2-6 Agustus 2021 lalu. Kualitas sound-nya tentu terdengar lebih lebar, menampar dan in-your-face. Piringan hitam Antiviral 7” hanya dirilis terbatas 250 kopi saja dengan sampul gatefold premium.
Sebagai catatan, mini album Antiviral sebelumnya sempat dirilis dalam format kaset dengan jumlah terbatas 100 keping melalui label rekaman Disaster Records, bertepatan dengan momen Record Store Day (RSD), 22 Juli 2021 silam. Dalam waktu singkat, kaset itu ludes diserbu pembeli dan penggemar Extreme Decay. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Extreme Decay juga bersepakat dengan Samstrong Records untuk merilis mini album tersebut dalam format piringan hitam. Perbedaan yang terdapat pada Antiviral format kaset berisi lima lagu, sedangkan dalam format vinyl ini ada tambahan dua lagu yang belum pernah dirilis, sehingga total berisi tujuh lagu. Salah satunya adalah lagu “Kolaps” yang direkonstruksi ulang oleh musisi noise asal Yogyakarta, Indra Menus.
Vinyl ini memasuki masa pre-order dan sudah bisa dipesan mulai dari tanggal 5-14 Maret 2022 melalui akun media sosial Samstrong Records. Antiviral 7” akan beredar di pasaran luas melalui sejumlah toko rekaman independen di berbagai kota di Indonesia mulai tanggal 15 Maret 2022.
Tersedia dalam dua warna plat, yaitu hitam (150 kopi) dan oranye (100 kopi). Harga pre-order selama tanggal 5-14 Maret 2022 dipatok sebesar Rp.175.000,-, dengan bonus poster, stiker, dan pin selama persediaan masih ada. Selepas masa pre-order, vinyl ini akan dipasarkan ke publik luas mulai tanggal 15 Maret 2022 dengan harga Rp.200.000,- yang bisa didapatkan di sejumlah toko rekaman yang ditunjuk.
Sebagai bagian dari promosi perilisan vinyl ini, Extreme Decay meluncurkan single baru “Invasi Pengerat” yang dikemas dalam wujud video musik garapan Dimas Tirta Arwana dan sudah bisa disimak melalui kanal YouTube Samstrong Records, sejak beberapa hari lalu.
Sekarang, Extreme Decay sedang menyiapkan materi split album bersama Busuk yang akan dirilis oleh Unleash Records, proyek reissue salah satu album klasik mereka, serta materi musik terbaru untuk album penuh Extreme Decay terbaru yang akan dirilis pada tahun 2022. Selain itu, mereka juga sedang membenahi situs resminya www.extremedecay.com dan merilis berbagai jenis merchandise, sembari menanti era pandemi berlalu agar bisa kembali melakoni tur dan konser demi menyapa fansnya secara langsung. Ini akan menjadi salah satu era paling sibuk dan produktif bagi Extreme Decay.
Comments (0)