Eastern Elite Commander: Bertamasya ke Lorong Kegelapan dari Timur
Banyak orang juga paham bahwa 75% di komunitas EEC berasal dari band-band Bestial. Namun hal itu malah bisa dijadikan tonggak untuk media sosialisasi ke Black Metal Nusantara khususnya yang menggemari Bestial, karena ia pribadi juga berpendapat bahwa Nusantara mesti dibedah juga dari segi Bestiality, demikian yang disampaikan Doni yang sekarang ini terus aktif melakukan proyek penelusuran sejarah Nusantara melalui bandnya.
Bestial memang dominan di komunitas EEC tetapi tidak mendominasi. Mungkin inilah juga yang menjelaskan kenapa Hendra Yuwono kesulitan waktu saya tanya apa yang menjadi ciri pembeda dari EEC ini. Karena mungkin Bestial berhasil secara eksternal sebagai penanda khas EEC karena terlihat signifikan namun tidak mendominasi apalagi dipaksakan dominan.
Bestial atau War Metal merupakan gaya musikal dari Black Metal yang lebih agresif, khaos, dan sangat terpengaruh oleh gaya Death Metal. Genre ini dibedakan dari gaya Black Metal pada umumnya melalui sejumlah tanda penting. Tipikal band Bestial tidak menampilkan gaya picking gitar tremelo dan cenderung bergantung pada kord power yang sudah diturunkan. Solo gitar band-band ini terkesan spontan alias tak terduga. Mendekati ciri band-band Black Metal gelombang pertama yang berbeda dari band-band gelombang kedua Norwegia yang lebih melodis. Tempo musik yang dimainkan seperti semburan distorsi yang kian meningkat intensitasnya. Rata-rata durasi lagu berkisar 3 menitan yang dengan kata lain lebih singkat dari Black Metal. Karakteristik vokalnya juga sedikit berbeda dari Black Metal yang kadang terdengar seperti jeritan. Malahan agak mirip dengan band-band Death Metal yang berkarakter vokal geraman namun lebih rendah. Ciri lainnya nampak dari lirik dan gaya produksi. Lirik band-band Bestial berpusat pada horor peperangan, bencana nuklir, dan sejenisnya. Sacrofago dari Brazil merupakan sosok penting munculnya bentuk musik ini.
Magus, personel dari Rajam yang juga merupakan anggota dari EEC mengemukakan, bahwa sebelum memainkan War Metal, ia sempat bermain Black Metal bersama Mounstrous dan Nujum. Tentang pilihannya memilih War Metal, ia menjawab bahwa War Metal-lah yang memilih dirinya.
Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa terkadang persoalan munculnya sebuah komunitas, apalagi di ranah Metal bukan karena ingin menunjukan siapa yang paling hebat, tapi lebih pada bagaimana kecocokan terbentuk melalui obrolan maupun yang lainnya. EEC mampu membuktikan biarpun terdiri dari berbagai pemikiran, kelompok ini tetap solid. Mirip sekali dengan cara kita memilih kawan baik di kehidupan nyata. Bukan karena alasan pesona kehebatan atau kepintaran, namun semacam ada frekuensi yang menyatukan dan sama-sama menyambungkan keselarasan dalam banyak hal. Itulah salah satu alasan kenapa EEC tidak berusaha mencari sebanyak-banyaknya anggota. Sedikit individu namun memiliki komitmen tinggi, akan mampu membuat komunitas ini tak lekang dimakan zaman.
Comments (0)