Kabar buruk dari Amorphous : Menebar kutukan melalui debut album bertajuk

Kabar buruk dari Amorphous : Menebar kutukan melalui debut album bertajuk "The Light Perish"

Dari jantung gelap skena musik ekstrem Tasikmalaya, unit metal Amorphous resmi meluncurkan album debut mereka bertajuk The Light Perish — sebuah karya penuh energi negatif, kutukan, dan perlawanan terhadap terang yang kian memudar dalam diri manusia.

Dengan mengusung tema besar tentang keseimbangan antara kebaikan dan keburukan, kehidupan dan kematian, The Light Perish tampil sebagai sebuah manifestasi bahwa realitas manusia modern, sadar atau tidak, semakin larut dalam pengaruh kekuasaan iblis dan obsesi pada nafsu duniawi. Di tengah kerusakan batin dan pudarnya cahaya dalam hati, Amorphous menyuarakan peringatan: bahwa takhta neraka dan penguasa kegelapan, Azazel, kini disembah lewat bentuk-bentuk kesenangan dunia yang tak terkendali.

Album ini berisi 8 trek penuh intensitas, dan menjadi pernyataan resmi Amorphous untuk menjaga bara semangat musik ekstrem tetap menyala di tanah kelahiran mereka. Sebelumnya, Amorphous telah membuka gerbang menuju album ini lewat single promo berjudul “Cursed Flames”, yang dirilis secara mandiri dan mendapat respon kuat dari komunitas underground.

Dirilis oleh Metalgear Music (Ciamis, Indonesia) pada tahun 2024, proses kreatif The Light Perish memakan waktu hampir satu tahun penuh. Seluruh materi direkam di Damage Studio, yang juga merupakan markas dari Adit, vokalis sekaligus gitaris band ini. Adit bertanggung jawab atas penulisan lirik dan penggarapan aransemen, yang disusun bersama Bay (gitar).

Sementara itu, proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Black Demon Record (Bandung), menambah lapisan sonik gelap yang makin memperkuat atmosfer album. Visual dan estetika juga mendapat perhatian serius — Aghypura Kusuma menangani artwork sampul, Nvrds:visualz menyusun layout desain, dan sesi pemotretan dilakukan oleh Doni.

Lewat The Light Perish, Amorphous tak hanya merilis album, tapi juga membuka ruang untuk refleksi brutal tentang kondisi manusia modern yang haus akan kekuasaan, kesenangan, dan kehilangan kendali. Album ini bukan sekadar rilisan musik — ini adalah kutukan, kesaksian, dan perlawanan dalam bentuk paling puranya.

 
View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner