MarcoMarche – Duo Akustik dengan Duet Tokoh Fiktif yang Melahirkan Album Ke-2

MarcoMarche – Duo Akustik dengan Duet Tokoh Fiktif yang Melahirkan Album Ke-2

Si pria berperan sebagai ‘Marco’, lalu peran si wanita sebagai ‘Marche’. Duta dan Chintana, akhirnya melengkapi formasi MarchoMarche. Kini, Down the Valley lahir sebagai diskografi ke-2.

Chintana Ayukinanti dan Duta Pamungkas kini menjalani grup musik bernama MarcoMarche, duet akustik yang 18 Februari kemarin resmi merilis album keduanya. Sebuah launching event berlokasi di Paviliun 28, Jakarta Selatan menjadi pesta kecil atas lahirnya album Down the Valley ke dunia.

Duta Pamungkas, pendiri MarcoMarche yang berperan sebagai 'Marco', mengungkapkan bahwa album kedua MarcoMarche berbeda dengan album pertama mereka (Warm House, rilis 2014). Pasalnya pada album keduanya ini, Duta mempercayakan Chintana untuk berperan sebagai ‘Marche’.

Awalnya, Chintana tidak yakin untuk mencoba bermusik bersama. Chintana sempat merasa ada beban, karena harus menggantikan figur Marche yang sebelumnya dimainkan oleh Asterina. Meski bukan hal mudah, ternyata Chintana cukup berani menerima challenge ini – hingga wrap, album kedua mereka kelar.

Dengan formasi baru, maka secara musikalitas Duta mengaku kehadiran Chintana membawa pula suasana baru di tiap lagunya. Positively, perbedaan karakter vokal antara Chintana dan Asterina tetap nge-blend dengan karakter vokal Duta. Chintana punya mood dan energi happy, ceria, dan positif, sehingga itu alasan Duta mengajak Chintana dalam memperkaya warna musik MarcoMarche.

Secara aransemen dan komposisi, album Down the Valley banyak menjelajahi hal-hal yang belum pernah dilakukan di album pertama. Termasuk dengan melibatkan instrumen selain gitar sebagai eksplorasi baru di album kedua ini.

Secara teknis recording, menariknya, MarcoMarche memilih menggunakan frekuensi khusus, yakni gelombang 432 hertz (Hz) – bahkan dipakai dalam manggung juga. Beberapa teori musik tentang akustika dan organologi meyakini bahwa frekuensi ini termasuk kategori gelombang yang unsurnya lebih ‘konsonan’ – punya rasa dan tingkat kepadatan tersendiri di telinga, karena dianggap mampu lebih menjangkau alam bawah sadar.

Secara alami, tipikal frekuensi 432Hz lebih bisa membawa mood yang tenang, sejuk, dan damai. Walaupun masih ada pendapat berbeda di luar sana, toh bagi MarcoMarche pengaruh positifnya sudah terasa. Mereka percaya, energi positif dari lagu-lagu MarcoMarche lebih bisa tersalurkan ke pendengar dengan frekuensi alam ini.

Dalam album kedua ini, secara garis besar Duta dan Chintana memilih tema-tema tentang kehidupan. Contohnya, tema antara manusia dan perjalanannya, atau kisah peziarahan manusia di dunia. Ada pula tema tentang manusia yang berefleksi, berdialog dengan dirinya, hingga merambah fase kedewasaan.

Isu yang mereka angkat banyak menggunakan simbol, terutama dalam setiap lirik, sehingga meski pesannya terasa mendalam, musiknya tetap ringan untuk didengarkan.

Judul album Down the Valley sendiri diambil dari salah satu judul lagu yang terdapat di dalamnya. Kata ‘valley’ merupakan simbolis perjalanan hidup setiap manusia, berdasar ranah atau lembahnya masing-masing.

Rilisan fisik berupa CD album Down the Valley bisa didapat dengan memesan melalui Instagram (@marcomarche__ ). Selain itu, album ini juga telah tersedia di gerai musik digital, seperti iTunes, Apple Music, Spotify, Deezer, Joox, dan lain-lain.

Sumber foto : Instagram @MarcoMarche_

BACA JUGA - Menanti Aksi Adra Karim & John Navid di “Jazz Buzz Salihara 2018” Akhir Pekan Ini

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner