Menadakan Arti Pertemuan; Sămânță Siarkan

Menadakan Arti Pertemuan; Sămânță Siarkan "Naradira"

Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Sămânță

Post-Rock adalah sebuah subjektif unik dimana komposisinya menimbulkan opini, fantasi atau intepretasi yang berbeda dari tiap-tiap pendengarnya

Kritikus musik Simon Reynolds adalah orang pertama yang mencetuskan istilah post rock dalam sebuah artikel majalah Mojo pada tahun 1994, ketika mengulas band Bark Psychosis (UK) yang merilis album perdananya, Hex. Medio 2005, di blog pribadinya, Simon mengklaim bahwa istilah ‘post rock’ lebih dahulu ia pakai dalam satu tulisan feature-nya untuk majalah Melody Maker, di mana dia mengupas tentang Insides, duo post rock/dreamp pop/ambient pop (juga berasal dari dataran Inggris) yang mendapat pujian kritis untuk debut album terbaik pada tahun 1993; Euphoria di bawah naungan label paling esensial sepanjang sejarah musik alternatif; 4AD Records. Jauh sebelumnya, Talk Talk  yang juga dari Inggris, dan Slint dari Amerika dikreditkan sebagai grup musik yang mempionirkan memproduksi jenis musik ini pada awal 1990-an.

Dari timur jauh, sebuah majalah ternama asal tanah air pernah menyebutkan nama A Slow in Dance sebagai band post-rock pertama di Indonesia. Band ini asal Cimahi. Di Bandung, muncul band-band post-rock macam Sarin, Under The Big Bright Yellow Sun, Echolight, Sparkle Afternoon, Afternoon Say, Autumn Ode dan lain-lain. Yogyakarta diwakili Individual Life.  Sementara itu, selingkaran Jakarta memunculkan nama Ghaust, Marché La Void, My Violainé Morning, Folkaholic dan sebagainya. Kebanyakan dari band-band tersebut terlahir pada tahun 2006 hingga 2007.

Percepat ke 4.0, Angular//Momentum Records menyulih dari era ini dengan merilis karya terbaru dari salah satu roster mereka pada awal tahun 2022. Label yang berfokus di wilayah musik ambient, post rock dan experimental ini merilis single perdana berjudul “Naradira” dari unit post rock asal Jakarta, Sămânță. Diambil dari Romanian words yang berarti "seeds" atau benih, Sămânță. diperkuat Aloysius Nitia (guitarist, samples), Jay Nasution (guitarist) , Ruben Aditya (guitarist), dan Efraim Tirto (drum).

Bermula dari proyek musik personal Aloysius, kemudian ia bertemu dengan Jay dan merangkul beberapa temannya untuk ikut membentuk sebuah band. Musik post-rock instrumental yang dibawakan oleh Sămânță sangat kuat dipengaruhi oleh band-band post-rock seperti Caspian, MONO, Sigur Ros, dan Explosions In The Sky.

Bukan tanpa alasan  Sămânță  memilih single “Naradira” sebagai  yang perdana untuk dirilis di antara materi lainnya. Menurut Aloysius lagu ini yang membuka pertemuan dia ke banyak hal.

“lagu ini yang membuka pertemuan gue ke banyak hal, contoh approach ke angular momentum, mempertemukan gue dengan orang orang hebat (personil) dan juga mempertemukan gue dengan eksplorasi musik yang baru, dan juga mempertemukan gue dengan Nissa yang mengisi strings sections untuk lagu ini” ujarnya.  

Single “Naradira” ini tentang sebuah pertemuan, dimana Sămânță menaruh harapannya untuk tumbuh subur, berkembang dengan memupuk hal-hal baik untuk dituai di masa yang akan datang, memberikan corak di kancah musik arus samping Indonesia.

Guratan artistik pada sampul digarap oleh Aloysius Nitia, untuk proses mixing dan mastering dipercayakan kepada F.A. Poetra Tiarda, dan keseluruhan produksi materi lagu, Sămânță didampingi Jajang Nurjaman dan eksekutif produser & string sections Annissa Utami. 

BACA JUGA - Perdana dari Rayhan Murtaza, Rocker Berjoget Ajojing “La Cassa Cosindo”

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner