Mengadili Sisi Gelap Ardhito Pramono
Ardhito Pramono akan menjadi terdakwa, dan harus menghadapi berbagai tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut. Jika Ardhito Pramono berhasil berbicara atas nama karya, dia akan bebas dari tuntutan
Darah musik telah terasa mengalir deras dalam tubuh Arhito sejak belia. Pada usia 14 tahun dia telah tekun belajar berbagai alat instrument musik terutama piano. Selera musiknya lebih memilih untuk menikmati musik jazz dan penggemar lagu tahun 40an. Kemunculan pertamanya adalah ketika dia tampil di Youtube membawakan lagu dari Ella Fitzgerald's berjudul ‘What are you doing new year's eve?’. Disusul dengan karya pertamanya yang bertitel ‘The Bitterlove’, lalu di ikuti dengan lagu ‘What Do You Feel About Me’ ketika ia masih kuliah di JMC Academy, Australia, Jurusan Perfilman. Karyanya tersebut berhasil meraih perhatian para pemirsa di YouTube.
Setelah lulus dari JMC Academy, Ardhito membantu sang ayah untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya yang bekerja di bidang aircraft maintenance. Namun hasratnya yang kuat dan kecintaannya pada musik Ardhito memutuskan untuk terjun sebagai full time musician. Terbukti pada tahun 2017 Ardhito merilis mini album perdana dengan judul namanya.
Sukses dengan mini album ‘Ardhito Pramono’ ditahun yang sama Ardhito kembali merilis mini album bertajuk ‘Playlist Vol. 2’. Pada tahun 2019 Ardhito kembali merilis mini album ‘Letter to My 17 Year Old’. Selain itu ada karya lain dari Ardhito yang ikut mewarnai khazanah perfilman Indonesia dengan melepas single yang menjadi soundtrack untuk film seperti ‘Susah Sinyal’ dan ‘Fine Today’.
Bukti dari keseriusan dan konsistensi Ardhito dibidang musik berbuah manis dengan masuk sebagai nominasi pada ajang Anugerah Musik Indonesia sebagai Artis Solo Pop Terbaik, Artis Jazz Vokal Terbaik dan Karya Produksi Folk/Country/Balada Terbaik ditahun 2019. Selain sukses didunia musik Ardhito juga menua prestasi sebagai Pemeran Pendatang Baru Terfavorit di ajang Indonesia Movie Actors Awards.
Ditahun 2020 Ardhito Pramono melepas EP terbaru, ‘Craziest Thing Happened in My Backyard’. ‘Craziest Thing Happened in My Backyard’ menjadi album mini keempat yang memuat lima lagu. Dalam mini album ini memuat sisi personal dan gelap Ardhito Pramono. Mini album ini bisa ditafsirkan sebagai halaman belakang tempat menyimpan berbagai kenangan baik, buruk, rahasia, dan perspektif Ardhito Pramono. Buah pemikiran itu menghasilkan lagu ‘Trash Talkin', ‘925’, ‘Here We Go Again/Fanboi’, ‘Plaza Avenue’, dan ‘Happy’.
Pengadilan Musik Virtual adalah salah satu program dari DjarumCoklat Dot Com (DCDC) yang secara rutin mengundang dan mengkaji materi-materi terbaru dari band-band independen dan solois tanah air yang aktif dalam membuat karya. Lewat program ini, mereka akan menyandang predikat sebagai Terdakwa, dan harus menghadapi berbagai tuntutan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut. Jika Ardhito Pramono berhasil berbicara atas nama karya, dia akan bebas dari tuntutan dan materinya akan dinyatakan layak untuk dikonsumsi oleh publik.
Ardhito Pramono akan diadili di Pengadilan Musik Virtual pada Jumat, 9 Oktober 2020 pukul19.00 WIB dan disiarkan langsung secara streaming disaluran Youtube DCDC TV. Dia akan diadili oleh dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq. Kursi Pembela akan ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Pengadilan akan dipimpin oleh seorang Hakim yaitu Man (Jasad) dan jalannya persidangan akan diatur oleh Eddi Brokoli sebagai Panitera.
Comments (0)