Menikmati 'Nusantara Folk' dari Saddana Lewat "Rerinduan"
Rindu bukan hanya milik dua orang yang sedang jatuh cinta. Rindu pada satu sosok yang berpengaruh pada kehidupan rasanya lebih tulus dan dalam. Rindu pada ibu, misalnya.
Rindu itu manusiawi, setangguh apa pun, seacuh apa pun. Tidak selamanya juga rindu menjadi milik roman picisan. Bisa dikata, rindu adalah manifestasi dari salah satu rasa yang paling tulus. Objeknya bisa apa saja, salah satunya adalah pada sesuatu yang sudah melekat dengan sangat personal. Keluarga, misalnya.
Lebih kurang, itu lah yang coba disampaikan dalam lagu "Rerinduan" dari Saddana. Disuguhkan dalam paduan nada diatonis dan pentatonis sesuai dengan karakter dari grup musik ini, "Rerinduan" adalah materi yang melagukan tentang rasa resah dari seseorang yang merindukan satu sosok atau figur yang berpengaruh dalam hidupnya. Lagu ini merupakan bagian dari album perdana mereka yang rencananya akan dirilis di awal tahun 2019. Mereka bekerja sama dengan Satrio Wibowo sebagai sound engineer dalam merekam "Rerinduan", berlokasi di Sadda Studio.
Saddana juga meramu "Rerinduan" dalam format video. Dalam visualisasinya, "Rerinduan" digambarkan oleh dua orang individu yang pada hakikatnya memilliki ikatan batin paling erat: ibu dan anak. Diceritakan di sana, sang ibu sedang merindukan anak semata wayangnya yang sedang merantau ke negeri orang. Hingga akhirnya, sang anak yang juga merindukan keluarganya kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan mendapati tak ada lagi siapapun yang menantinya di sana.
Saddana sendiri merupakan grup musik asal kota Bandung yang dibentuk pada tahun 2016. Mereka menamai genre yang mereka usung sebagai "Nusantara folk". Saddana diperkuat oleh tiga orang gitaris, yaitu Yudhistira Maulana Putra, Gilang Pramana dan Mochamad Alfiansyah. Tya Almira merupakan vokalis dari Saddana, dan Fariz Alwan bertugas sebagai peniup alat musik bansuri.
Comments (0)