Reality Club Hadirkan “Not Today”, Lagu yang Lahir dari Titik Tergelap dan Harapan Tipis
Jakarta — Harapan, sesederhana dan setipis apa pun, bisa menjadi penentu antara hidup dan mati. Itulah premis kuat yang melandasi lahirnya lagu terbaru dari band indie rock asal Jakarta, Reality Club, bertajuk Not Today. Lebih dari sekadar lagu, karya ini adalah bentuk penyembuhan diri dari sang drummer, Era Patigo, yang menulisnya berdasarkan pengalaman personal menghadapi masa kelam di hidupnya.
Lagu ini bermula dari tahun 2021, masa di mana pandemi membuat segalanya terasa stagnan, dan Era jatuh dalam kondisi mental yang rapuh. Ia menggambarkan dirinya saat itu tengah berada dalam kondisi depresif dan suicidal, di mana ia tak lagi melihat cahaya di ujung hidupnya. “Waktu itu gue beneran merasa ini bukan cuma bad mood, tapi udah ada pikiran untuk mengakhiri hidup. Hari demi hari makin gelap,” kenang Era.
Beruntung, Era memiliki support system yang kuat—keluarga dan kawan-kawannya di Reality Club, serta bantuan profesional lewat konseling psikologis. Lewat sesi-sesi itulah Era menyadari bahwa akar masalahnya telah muncul sejak masa remaja. Namun hanya ketika duduk di hadapan piano di kamarnya, melodi dan lirik Not Today mengalir begitu saja, menjadi jembatan penting dalam proses penyembuhan itu.
Proses penulisan lagu ini disebut Era sebagai sesuatu yang “ngalir aja.” Dalam waktu singkat, 70 persen struktur lagu selesai, tanpa tekanan dan overthinking seperti biasanya. “Lagu ini menyelamatkan saya,” ungkap Era jujur. “Bukan cuma buat orang lain, lagu ini pertama-tama menyelamatkan penulisnya sendiri.”
Not Today adalah perjalanan emosional yang disusun layaknya film. Di awal lagu, liriknya menggambarkan keputusasaan: we kiss the floor / we start a fight // there’s nothing more / can’t see the light. Namun seiring berjalannya lagu, muncul titik balik: kesadaran bahwa masih ada harapan, bahwa hidup tetap layak diperjuangkan. Di sana, Era menulis baris yang menyentuh: oh no, I was mistaken / This ain’t the way.
Bagian akhir lagu menjadi klimaks emosional yang mengajak pendengar melihat keindahan dalam perjuangan:
I know it’s hard you can’t understand
the little things that could save a man
You take your plans and you make them true
You’ll see your life in a different view
Dalam proses rekaman, Reality Club melibatkan Kancatala Ensemble untuk menambah lapisan emosi lewat paduan suara. Martha Ivana, Vonny Christiani, M. Ogung J. Panggabean, dan Kristian Wirjadi menghadirkan sentuhan megah dan simpatik yang menjadikan Not Today terasa hangat dan mengharukan. Lagu ini direkam di Soundpole 2.0 dan Soundverve, dengan mixing oleh Wisnu Ikhsantama Wicaksana dan mastering oleh Brian Lucey (Magic Garden Mastering, Los Angeles), sosok di balik mastering 11 Grammy Awards.
Menariknya, Not Today dirilis pada tanggal yang sangat personal—9 Desember, tepat di hari ulang tahun Era. Ia berharap lagu ini bisa menjadi pelukan bagi mereka yang sedang dalam titik rendah. “Gue gak mau jadi penyelamat. Gue cuma pengen lagu ini bisa jadi teman, buat satu jiwa dalam satu waktu. One soul at a time,” tutup Era.
Dengan Not Today, Reality Club tak hanya merilis sebuah lagu, tapi juga pesan empati dan keberanian untuk bertahan. Lagu ini menjadi bukti bahwa dalam kegelapan sekalipun, harapan bisa tumbuh dan musik bisa menyelamatkan.
Comments (0)