‘Sanctificates Sanctuary', Amunisi Massive Fields Pertahankan Gaung Hip-Hop Bawah Tanah Indonesia
'Sanctificates Sanctuary' adalah mixtape berisi 16 lagu yang menandai kembalinya Massive Fields setelah hiatus bertahun-tahun. Mixtape ini merupakan gagasan dari produksinya yang terinspirasi dari geliat musik hip-hop bawah tanah di Jakarta.
Massive Fields adalah produser yang lahir dan besar di Jakarta. Dipengaruhi oleh label Brainfeeder dan artis hip-hop lainnya, ia memulai perjalanan musiknya pada tahun 2012 dan fokus pada produksi hip-hop bawah tanah yang berat. Gaya produksinya dibentuk oleh pukulan drum yang keras dan tipe sample laded, yang bertujuan untuk menunjukkan kebebasan berekspresi, baik dalam ruang kecil atau lebih besar; karena itulah maka moniker 'Massive Fields' dipilih. Massive Fields juga merupakan bagian dari Phonetics Studios dan telah merilis mixtape dengan judul Sanctificates Sanctuary di bawah label independen tersebut.

Sanctificates Sanctuary yang baru saja dirilis terdiri dari 16 lagu. Mixtape ini ditandai sebagai kembalinya Massive Fields setelah bertahun-tahun hiatus. Mixtape ini merupakan gagasan dari produksinya yang terinspirasi dari geliat musik hip-hop bawah tanah di Jakarta. Ketukan yang berat melambangkan hiruk pikuk Ibu Kota, dan bertujuan untuk menghadirkan lanskap suara baru ke dunia musik hip-hop bawah tanah.
Produksi dicampur dengan techno, namun ia berhasil menggabungkan drum loop dan teknik produksi hip-hop berbasis sampel. Mixtape ini harus menjadi soundtrack bagi orang-orang yang suka menghabiskan larut malam mereka berkeliling kota.
Hip-hop alternative atau rap alternative adalah subgenre musik hip-hop yang mencakup berbagai gaya, yang tentu saja tidak diidentifikasi sebagai arus utama. Allmusic mendefinisikannya sebagai berikut: "Rap alternatif mengacu pada grup hip hop yang menolak untuk menyesuaikan diri dengan stereotip tradisional rap mana pun, seperti gangsta, bass, hardcore, pop, dan rap pesta. Sebaliknya, mereka mengaburkan genre yang menggambarkan secara setara, dari funk dan pop/rock, serta jazz, soul, reggae, dan bahkan folk."
Mencampur-baurkan berbagai aliran musik, hip-hop alternative atau hip-hop bawah tanah mendapat tempat di kuping pendengar rock alternative dan musik indie, ketimbang pendengar hip-hop atau pop sendiri. Dikembangkan pada akhir 1980-an dan mengalami tingkat pengkuan media dan industri musik arus utama selama awal periode hingga pertengahan 1990-an. Beberapa grup seperti Arrested Development dan The Fugees berhasil mencapai kesuksesan komersial sebelum bubar.
Momentum komersial dan budaya lumayan terhambat ketika perang rap gangsta di Pantai Barat lawan Timur mulai menjangkiti seniman hip-hop. Hingga kebangkitan muncul pada akhir 1990-an dan awal milenium, terutama di era digital dengan minat muda-mudi yang condong mendengarkan musik independen ketimbang arus utama. Selama tahun 2000-an, hip-hop bawah tanah mulai menapaki kembali tempatnya, karena banyak pendengar mulai muak dengan kekerasan dalam lirik, sikap dan segala komponen musik gangsta rap. Gerakan hip hop alternatif telah berkembang di luar Amerika Serikat untuk memasukkan penyair Somalia-Kanada K'naan, dan seniman Inggris M.I.A. Tindakan hip hop alternatif telah mendapatkan banyak pujian kritis, tetapi menerima paparan yang relatif sedikit melalui radio dan outlet media lainnya.
Melihat kembali ke akar rumputnya, kita semua patut berterima kasih kepada A Tribe Called Quest, Kanye West (era awal), De La Soul, mendiang MF DOOM, Jurasic 5, Mos Def dan Gorillaz adalah beberapa daftar nama yang mengusung tema rap alternative yang ‘berisi’ materi musiknya. Skala domestiknya, Homicide, Cronik, D Army, Eye Feel Six, Angkatan Udara (A.U), Modus Operandi, Pumpkin Rap Crew, G-Tribe, Rongsokhanclan, Molothuvz, Rotra, BSK, Ramengvrl, Krowbar, Pangalo dan tentu saja Massive Fields yang menggengam erat tongkat estafet berikutnya untuk konsisten membuat bengalnya klan hip-hop alternative tetap bergaung dengan lantang di Indonesia.
Comments (0)