Sundancer Sebarkan "Firasat" Tembang Sendu Andalan Punk Rocker
Pemerintah Pusat menunjuk wilayah DKI Jakarta sebagai daerah pertama yang memberlakukan kebijakan PSBB di tengah pandemi Covid-19 pada Jumat, 10 April 2020. Tepat di hari yang sama, duo garage punk/rock asal Lombok, Sundancer menyebar single terbarunya bertajuk “Firasat”.
Masih melanjutkan kerjasama apik dengan Lamunai Records, single kedua ini akan ikut menjadi bagian dari album mini yang direncakan akan dirilis pada pertengahan tahun 2020. Setelah sebelumnya tampil ugal-ugalan di debut EP Musim Bercinta (2018) dan heroik di single "Pusaka Abadi" (2019), mendengarkan single “Firasat” secara keseluruhan ternyata banyak memberi kejutan. Kebengalan punk rocker, penuh hentakan juga pedal gas yang diinjak dalam-dalam yang menjadi identitas resmi Sundancer selama ini runtuh nyaris sirna. Walaupun tidak sepenuhnya, karena urusan wardrobe masih mendukung.

Tak disangka-sangka di balik keliaran Decky Jaguar dan absurditas Om Robo yang misterius, rupanya masih tersisa secuil pop balada bernada sendu era 1960-an berkadar gula tinggi. Perpaduan The Everly Brothers dan The Ronettes diiringi kesederhanaan yang berkesan dari The Jesus and Mary Chain via “Just Like Honey” sebagai penutup adegan akhir film “Lost in Translation” yang begitu terasa di single ini. Komposisi musik yang andai saja diproduseri oleh Phil Spector dengan alat perekam mono akan menghasilkan kualitas wall of sound yang sahih begitu mumpuni.
Satu hal yang menarik, musik dari lagu ini ditulis oleh Bagus “Jalang” Wiratomo. Almarhum yang berpulang tahun 2015 silam dikenal sebagai pelaku skena dan juga musisi asal Yogyakarta yang tergabung dengan sebuah band punk bernama Mortal Combat. “Single ini ceritanya tentang seorang pria yang berpegang teguh akan nilai-nilai yang diyakininya, kisah seorang punk rocker saat patah hati atau sekadar menjadi teman di saat sendu dan peliknya keadaan kita sekarang. Secara musik, kami merasa seperti menginjak pedal rem dan gas sedalam-dalamnya secara bersamaan, mencoba lebih mengontrol sisa dopamine dalam otak agar "Aku Tenang", kalau kata Fourtwnty, begitu hahaha… Intinya menjaga mesin tua ini agar tetep meraung aja sih,” tutur Sundancer.
Aransemen dan lirik dari single "Firasat" digarap oleh keduanya. Om Robo juga turun untuk divisi gitar akustik, elektrik dan bas, sementara synthesizer dan drum midi mendapat bantuan dari Ferdi Soewandi. Ia juga yang mengeksekusi mixing & mastering di FX Studio, Mataram.
Single ini mampu memberi penyakit diabetes dan kencing manis jika didengarkan terus menerus dan pendengar sudah dapat menikmatinya di berbagai gerai musik digital. Begitu juga dengan video musiknya yang sudah bisa ditonton melalui kanal YouTube resmi Sundancer. Terakhir, semoga lagu ini dapat menjadi pelipur lara di masa sulit ini, dan menambah riuh rendah khazanah musik Indonesia.
Comments (0)