Swellow dan EP Karet-nya – Gerbong Lanjutan Bogor Sebagai Kota Indie Rock
Predikat Bogor sebagai Kota Hujan dan Kota Seribu Angkot sepertinya sudah terlalu usang. Biarlah Jakarta menjadi Kota Metropolitan yang penampilnya tematik dan Bandung selalu dengan ciri khasnya sendiri. Untuk Bogor, sematan kota ‘indie rock’ rasanya cukup tepat.
Terdengar menggelikan?
Jelas, iya. Menukil hasil respon yang sama juga dilontarkan oleh sang gitaris Swellow, Andi ‘Idam’ Fauzi jika mendengar predikat tersebut. “Geleuh,” katanya, mengutip dari isi siaran pers Swellow yang ditulis Raka Dewangkara.
Swellow berdiri dari sisa-sisa Reid Voltus yang bersinar di pertengahan 2000-an dan meredup lalu isrna di tahun 2012. Statusnya sebut saja hiatus. Jadi tidak benar-benar hilang, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.
Cerita antara indie rock dan Bogor nyatanya berkesan bagi sebagian orang. Lagi-lagi, saya mengutip dari cuitan @sobatindi3 di Twitter beberapa waktu lalu. Ada sejumput cerita manis mengenai relasi Bogor dan indie rock dalam tahun-tahun ke belakang ini.
Kembali ke Reid Voltus, unit indie rock ini pernah masyhur namanya di skena Bogor. Tidak ingat atau tidak tahu? Bagi yang tidak tahu atau sekedar ingin membangkitkan memori, sila berselancar di website ini. Ada sedikit tulisan saya tentang albumnya mereka, “Indie Rock was a Mistake, It’s Nothing But Trash” yang dirilis bulan Juli 2020 lalu. Kiprah band indie rock asal Bogor dilanjutkan oleh suksesornya, Texpack yang langsung mengambil hati senior di skena sana. Disusul Rrag sebagai gerbong lanjutannya.
Di tahun 2021, di mana segala hal semakin tidak menentu, cerita berlanjut. Sebuah unit musik kembali hadir, secara klandestin digagas oleh nama-nama lama yang sudah tidak asing lagi sebagai selebritas lokal kota Bogor. Lalu, apakah masih ingat dengan Andi ‘Idam’ yang disebutkan di awal-awal paragraf?
Ia kembali kepada misi suci yang pernah ia emban bersama Reid Voltus, jalur indie rock yang sebenarnya tidak pernah ia tinggalkan. Bersama empat nama lainnya; Bayu Azni (vokal, juga mengisi vokal di Diskoteq), Afnan Hissan (gitar, juga mengisi gitar di Texpack), Misbahuddin Nika (bass), dan Fadhil ‘Opay’ Naufal (drum), mereka membawa nama Swellow dan mengukirnya menjadi cerita bersambung skena indie rock Bogor dengan menghadirkan EP perdana mereka, Karet.

Dirilis secara resmi pada hari Minggu (23/05/21), EP Karet menggenapi rangkaian hadirnya nomor-nomor eceran dari Swellow yang sudah terlebih dahulu dilepas, sebut saja “Gargantua” dan “Sukar”. Nomor-nomor tersebut turut hadir di Karet, bersanding pula tiga nomor lainnya, yakni “Berita Harian”, “Asam”, dan “Pelintas”.
Terangkum lima nomor tersebut yang sejatinya merupakan nomor-nomor terpilih dan diputuskan untuk dihadirkan dalam bentuk EP. Kenapa terpilih? Karena sebenarnya, Swellow sudah memiliki beberapa materi yang digarap sepanjang tahun 2019 dan sudah melalui proses perekaman. “Beberapa materi yang sudah direkam akhirnya pada tahun 2021 ini kita pilih kembali, menjadi pembukaan yang kiranya bisa merepresentasikan seperti apa wajah Swellow,” tutur Bayu. “EP Karet dari Swellow bisa dibilang sebenarnya adalah hasil sortiran dari beberapa materi yang sudah direkam. Adalah sebuah hasil rangkuman dari beberapa materi yang dianggap cukup mewakili sebuah karakter dari Swellow itu sendiri,” tambah Idam.
Untuk urusan mixing dan mastering, Swellow menyerahkan semuanya kepada Deni ‘Denol’ Noviandi dari Bens Co. Studio, seorang kawan baik yang juga sering membantu menggarap rilisan-rilisan dari skena Bogor.
Selain hadir melalui Bandcamp dari Tromagnon Records, Swellow juga turut menghadirkan Karet dalam format kaset yang sudah bisa didapatkan melalui akun Instagram mereka. Ke depannya, Swellow juga akan melepas format CD dari Karet, juga mungkin mereka akan kembali melepas nomor-nomor yang sudah mereka rekam sebelumnya, walaupun memang tidak ada jaminan akan hal tersebut. “Belum ada rencana pasti ke depannya. Yang pasti, kita akan membuat rangkuman dari beberapa materi yang sudah direkam sebelumnya. Entah akan berbentuk maxi-single, EP, atau mungkin LP,” tutup Idam.
Atas cerita-cerita di atas, apakah masih butuh alasan tambahan untuk menyimak materi dari Swellow? Oh iya, mengingat bahwa umur dari band-band asal Bogor kerap kali sayup-sayup memudar sebelum berpendar pada waktunya, pastikan kalian tidak terlewat dengan yang satu ini sebelum akhirnya cahayanya resmi merencam.
Comments (0)