Daya Pikat Compadres di Tunggalan Keenamnya; tentang Hikayat Lakon Manusia

Daya Pikat Compadres di Tunggalan Keenamnya; tentang Hikayat Lakon Manusia

Foto dan artwork didapatkan dari siaran pers. Kredit tidak disertakan.

Empat sekawan pemilik jargon "bermusik untuk membuat orang senang, bukan berang": Compadres melepas karya terbarunya. Single keenam ini dijuduli "Mannasiya (Berhulu Hina Berhilir Fana)", tentang peradaban manusia yang kompleks dan dinamis.

Compadres diambil dari bahasa Latin, yang berarti kawan-kawan. Empat sekawan dari Ibukota itu adalah Adhi Rahman, Gilang Pramudya, Hario Nugroho dan Viqi Fauzi. Keempatnya sepakat melintasi dimensi genre dan sub genre lewat proyek musik Compadres yang ditujukan sebagai wadah untuk menuangkan idealisme bermusik para personelnya.

Selayaknya sebuah grup musik pada umumnya, visi utama mereka mengambil apa yang terbaik dari sumber daya setiap personel yang beragam untuk kemudian dileburkan menjadi karya musik Compadres. Sebagai pembeda, tema-tema positif dituangkan ke dalam karya-karya mereka yang sesuai dengan jargonnya: “Kami bermusik untuk membuat orang senang, bukan berang.”

Peradaban manusia yang kompleks, dinamis menyertai iringan zamannya. Berbagai lakon yang mereka perankan juga memiliki ketertarikan sendiri dari sudut pandang grup musik Compadres, yang merangkumkannya di tunggalan keenam mereka yang bernafaskan unsur religi berjudul “Mannasiya (Berhulu Hina Berhilir Fana)”.

Lagu bernuansa pop era '70-an ini sarat akan komposisi yang menyuguhkan tata suara klasik dan padat instrumen. Irama bersahutan dari setiap komponen yang dimainkan, nada begitu prima menjahit mesra tema lagu pun syair yang memikat. Penuh harmonisasi, membuatnya mudah didengarkan sambil menyegarkan kembali arti dan makna hidup kita sebagai manusia yang dianugerahkan beragam peran di dunia oleh sang Ilahi.

“Ada yang namanya harum dan mencapai marwah yang tinggi setelah sebelumnya pernah mengalami kejatuhan dan kehinaan. Ada juga lakon manusia sebagai insan yang mengaku ber-Tuhan namun sikap dan pemikirannya justru sebaliknya, lebih mengedepankan logika ketimbang perintah dari Tuhannya. Seakan-akan logikanya lebih di-Tuhankan daripada Tuhannya sendiri,” ungkap Adhi Rahman, penulis musik dan lirik, arranger dan pemain instrumen keyboard, backing vocal serta perkusi di Compadres.

Di tengah lantunan lirikal nan lugas, Compadres justru menyerukan diksi-diksi Indonesia yang tidak lagi lumrah terdengan di zaman kiwari, digunakan begitu syahdu dan multi tafsir. Selain sebagai pengingat bagi para personilnya, lagu ini menawarkan pengalaman bagi pendengar untuk menikmati tembang berbalut filosofis, santun, namun di lain sisi punya banyak perspektif.

“Kami ingin mengoptimalkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang agung, dan penggunaan diksi yang so called tidak biasa itu sebagai upaya kami untuk menghindari penulisan lirik yang klise,” ujar Adhi.

Di waktu yang bersamaan dengan dirilisnya lagu ini menjadi penanda kesiapan Compadres merilis album penuh yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat. Sosok Indra Q (Slank, BIP) didapuk untuk menata suara album mereka nanti dan proses rekaman dilakukan di Lontar Studio oleh Edi Kusnadi selaku operatornya.

Akan terdapat 10 nomor dalam album yang mengusung konsep musik bergaya combo/band dan juga format chamber juga symphony dengan melibatkan lini string oleh musisi-musisi yang biasa bermain di kelompok orkestra milik Erwin Gutawa. Adapun departemen woodwind antara lain digawangi oleh Harry Winanto. Bertindak sebagai orchestra conductor adalah Bowie Djati, seorang pemain dan praktisi orkestra Indonesia.

Kini, tunggalan keenam milik Compadres bertajuk “Mannasiya (Berhulu Hina Berhilir Fana)” sudah dapat didengarkan di digital streaming platform kesayangan anda.

BACA JUGA - Swellow dan EP Karet-nya – Gerbong Lanjutan Bogor Sebagai Kota Indie Rock

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner