Menyambut Hasil Kontemplasi Si Kuda Hitam
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Black Horses
Lewat single “Before The Flame” Black Horses berkontemplasi. Dipecut serangkaian tragedi, berlari tanpa henti layaknya arena pacuan kuda
Kita tidak pernah bisa menebak dari mana sinyal bahaya tragedi akan muncul, yang pasti duka cerita setia menyertainya. Tragedi datang beserta pilu, baik untuk dirinya sendiri atau kerabatnya.“Kehidupan merupakan rangkaian daripada tragedi,” ungkap Black Horses. Setuju atau tidak, manusia hidup dalam belantara sandiwara kesedihan.
Si Kuda Hitam berkontemplasi. Dipecut serangkaian tragedi, berlari tanpa henti. Hidup ini layaknya arena pacuan kuda. Kuda Hitam meringkik, si joki bertaruh nyawa namun sang bandarlah yang justru menang taruhan. Namanya juga hidup. Jatuh bangun, kalah menang itu hukum kodrat. Menyerahkah? atau tetap semangat berjuang? Jalan masih panjang, cak! Tinggal situ saja yang menentukan.
“Manusia sebagai makhluk yang tak pernah puas menyuapi nafsu kuasa atas angan-angannya. Meski demikian, angan-angan sendiri tak selalu bisa disederhanakan menjadi suatu wujud konkrit. Oleh karena itu, tragedi yang terjadi di sekitar angan-angan sejatinya memiliki keelokan yang acapkali kurang diacuhkan oleh manusia dalam perjalananya. Apabila disimak dengan lebih jeli, rangkaian tragedi tersebut akan tampak lebih elok dan hidup dibanding angan-angan semu itu sendiri.” Terang Black Horses dalam keterangan persnya ihwal single terbaru mereka yang berjudul “Before The Flame”.
Prolog di atas merupakan buah kontemplasi yang kesimpulannya berbunga menggerakkan kuartet rock asal Jakarta Selatan, Black Horses yang dihuni; Salim, Kevin, Lucky, dan Julian untuk memproduksi rilisan teranyarnya “Before The Flame” yang kini mengangkasa di berbagai layanan musik favorit masa kini.
Setelah membulatkan tekad untuk merilis album perdana, Ballads of The Freedom Youth di tengah kemuraman pandemi pada bulan Oktober tahun lalu (16 Oktober 2020 dalam format fisik dan 23 Oktober dalam format digital), mereka harus bergelut dengan berbagai realita memuakkan sebagai konsekuensi. Terhambatnya proses promosi pasca-rilis, minimnya pagelaran musik live, adaptasi dengan format daring neo-konvensional (live streaming), kerinduan dengan para ‘kusir’ (sebagaimana Black Horses menyebut pendengarnya) yang tak hentinya memberi dukungan dan mengutarakan harapannya untuk lekas berjumpa dalam moshpit yang penuh amarah, keringat, solidaritas yang terbangun dari kecintaan dalam visi musik yang sama, hingga pada agenda tur yang berantakan urung dihelat sebagai dampak dari pandemi yang menerjang.
Meski demikian, berbagai keterbatasan yang hadir justru mencambuk kuartet kuda hitam untuk merefleksikan musikalitas, teknis produksi, nilai karya, serta pengembangan mereka sendiri sebagai musisi. “Eksplorasi, dilema rock, dan asa yang terus menyala” tutur Salim Lubis. Alih-alih terus menyumpahi kondisi yang tak kunjung membaik, mereka menyadari bahwa asa dan elan haruslah terus menyala. Kesadaran ini ditindaklanjuti dengan derasnya upaya produksi materi yang terus mereka jelajahi.
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menggandeng salah satu kerabat terdekat, yakni Adhika Rudhi (keyboardist dari kugiran Coff) untuk berpartisipasi dalam eksplorasi dan penyusunan rilisan teranyar. Sebelum memasuki dapur rekaman, mereka bersama-sama berbagi keresahan mengenai dilema bagaimana musik rock seharusnya disusun dan disajikan. Black Horses pun menekankan konsep Gala-Rock, dengan segala hingar-bingarnya yang kini sulit mereka jumpai dan mereka sadari sebagai tantangan besar untuk mereka usung dalam rilisan yang akan datang.
Dengan sangat ciamik, rupanya kedekatan personal dan kesamaan visi antara Black Horses dan Dhika dapat dipersatukan dan dengan bangga mereka sajikan pada khalayak di hari ini. Peleburan dari hingar-bingar Gala-Rock, dengan instrumentasi garapan Kevin, Lucky, Julian, dan Adhika yang menerjemahkan susunan lirik Salim mengenai kegamangan, amarah, dilema, pencarian jiwa, kontemplasi, hingga pada pencapaian kedamaian dan kesadaran terangkum dengan sedemikian rupa dalam rilisan anyar ini.
Selain itu, rilisan ini pun menjadi proses pendalaman teknis produksi secara lebih jauh oleh kuartet ini. Proses rekaman yang mereka jalankan bersama kemudian dilanjutkan ke tahap berikutnya, eksekusi mixing dan mastering oleh Kevin Indriawan (sang gitaris) dan Aldino Hendar Kristianto (soundman Black Horses) langsung di kandang bawah tanah, yang dengan bangga mereka namai Sajam.
Palm House Records, label yang turut pula membidani album perdana Black Horses, masih bertanggung jawab untuk rilisan kali ini, di mana label ini bertugas penuh menukangi proses distribusi secara langsung ke berbagai lini. Sementara itu, artwork untuk rilisan ini merupakan wujud keberhasilan seniman dari Timur pulau Jawa, tepatnya kota Malang, Dimas Aziz, untuk menerjemahkan “Before The Flame” tanpa menghilangkan identitas dan esensi daripada Black Horses sendiri. Single “Before The Flame” sudah dapat diakses oleh khalayak luas via berbagai kanal digital streaming melalui tautan berikut ini.
Kalau kita mengamini petuah Stephen King, bahwa "Tragedi adalah tragedi, dan pada dasarnya, semua tragedi itu bodoh,” akhir kata, jika lulus menyintas serangkaian tragedi, saatnya berselebrasi. Merentangkan lengan lebar-lebar karna setidaknya kita sudah mempecudangi fragmen-fragmen kudacuki kehidupan. Bukan begitu, para pembaca yang budiman? YIHA! Tarik, Cakkudaaa!
Comments (0)