Lewat Albumnya, Monita Tahalea Ajak Pendengar Temukan Makna ‘Dari Balik Jendela’

Lewat Albumnya, Monita Tahalea Ajak Pendengar Temukan Makna ‘Dari Balik Jendela’

Foto didapatkan dari rilisan pers Monita Tahalea

‘’Aku tidak ingin membatasi makna album ini buat teman-teman yang mendengarkannya nanti. Begitu mereka mendengar kata Dari Balik Jendela, biarlah itu jadi perenungan tersendiri lagi buat mereka’’, ujar Monita.

Tahun 2019 menjadi tahun yang punya catatan tersendiri bagi penyanyi Monita Tahalea. Pasalnya pada tahun itu dirinya masuk di jajaran Nominasi AMI Awards 2019 untuk kategori Artis Pria/Wanita Solo Alternatif terbaik lewat single yang dia rilis berjudul "Sesaat yang Abadi". Lagu tersebut juga menjadi penanda awal album ketiganya, Dari Balik Jendela yang merupakan sebuah musim baru bagi Monita.

Bekerja sama dengan Lie Indra Perkasa sebagai Producer dan Music Arranger dari album tersebut, Monita Tahalea mengusung genre musik yang disebutnya  “Folktronik”, yang diakui olehnya agar mempermudah orang-orang untuk mengerti ada elemen apa aja didalam album ini. ‘’Mungkin dari segi elemen musik didalamnya lebih terinspirasi dari musik Folk, terus isinya banyak elektroniknya, makanya dijadiin satu aja dengan sebutan Folktronik”, ucap Monita. Album ini sendiri berisikan 10 track lagu di dalamnya, termasuk dua diantaranya lagu ‘’Sesaat Yang Abadi’’ dan ‘’Tapak Hening’’, yang kemudian dia daulat menjadi single terbarunya.

Lagu “Tapak Hening” yang diciptakan Monita Tahalea bersama Bayu Risa dan Yosua Gian memuat kutipan menarik dari bagian chorusnya, di mana secara esensinya seperti sebuah seruan harapan akan masa depan yang tenteram dan sejahtera. Hal tersebut dilatari saat Monita Tahalea pernah melakukan perjalanan bersama sebuah yayasan sosial ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan dari sebuah malam berbintang di Bukit Persaudaraan, Sumba, Monita Tahalea mendapat ide untuk menyuarakan harapannya akan masa depan anak-anak Indonesia. Banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam lirik lagunya, kali ini Monita Tahalea menggandeng Theoresia Rumthe, penulis buku puisi yang mumpuni di bidangnya serta aktif dalam dunia literasi dan sastra Indonesia, untuk berkolaborasi menulis lirik ‘’Tapak Hening’’ bersamanya.

“Pertama kali aku datang ke Sumba dan melihat anak-anak disana, ada satu sore di Bukit Wairinding - Sumba, saat aku bermain bersama anak-anak sambil menunggu matahari terbenam, aku melihat anak-anak itu lari-lari di sepanjang bukit tanpa menggunakan sepatu. Disitu aku melihat binar mata mereka yang enggak bisa aku lupain. Mereka seperti sedang berlari jauh meraih mimpi mereka. Harapannya, aku pengen melalui lagu ini kita boleh membuka diri kita bukan cuma untuk mimpi kita sendiri, tapi kita juga membuka tangan kita untuk membantu orang lain untuk meraih mimpinya, terutama anak-anak. Karena perjalanan mereka masih panjang dan mereka adalah generasi penerus bangsa ini. Akhirnya saat pulang ke Jakarta, di pesawat aku menulis sepenggal puisi. Karena aku ingin eksplore juga di lagu ini, aku serahin penggalan puisi tulisan aku itu ke Theoresia Rumthe, yang memang aku gemari tulisan-tulisannya. Aku banyak diskusi dengan dia tentang lagunya, tentang apa yang aku lihat disana dan apa yang ingin aku sampaikan. Dan akhirnya, Theoresia Rumthe hadir dengan puisi ‘Tapak Hening’ ini”, tutur Monita Tahalea tentang proses kreatif yang dilaluinya hingga tercipta lagu ini.

Lagu ‘’Tapak Hening’’ yang kemudian bermuara di album Dari Balik Jendela menjadi sebuah lagu yang bersinergi dengan lagu lainnya di album ini, di mana secara benang merahnya berisikan banyak cerita tentang angan dalam suatu ruang-waktu. Disini Monita ingin setiap orang yang mendengarkan lagu-lagu di album ini memiliki makna ‘Dari Balik Jendela’-nya mereka masing-masing. “Selama 5 tahun perjalanan setelah album ke-2, aku memasuki musim kehidupan yang berbeda lagi. Mulai dari aku banyak manggung, lalu kehidupan sebelum menikah dan setelah menikah. Banyak renungan yang terjadi dalam diri aku sendiri. Kenapa album ini diberi nama Dari Balik Jendela, karena aku tidak ingin membatasi makna album ini buat teman-teman yang mendengarkannya nanti. Begitu mereka mendengar kata Dari Balik Jendela, biarlah itu jadi perenungan tersendiri lagi buat mereka bahwa makna Dari Balik Jendela-nya teman-teman yang dengar, pasti memiliki versi yang berbeda-beda”, jelas Monita Tahalea.

Album ini terasa berbeda dari dua album Monita sebelumnya. Pendewasaan bermusik Monita di album ini adalah keberaniannya bereksplorasi dengan lirik dan aransemen musik yang berbeda, yang menampilkan sound-sound dan melodi-melodi pintar yang terdengar fresh di telinga. Selain kembali menggaet musisi seperti Bernardus Ajutor Moa dan Gerald Situmorang, Monita menghadirkan nama-nama baru yang terlibat dalam beberapa penulisan lagu di album Dari Balik Jendela ini, seperti Ananda Badudu, Bayu Risa, Theoresia Rumthe, dan Yosua Gian, yang justru membawa kedalaman tersendiri bagi setiap lagu yang ada di album ini. Sebelum menyimak keseluruhan albumnya seperti apa, simak dulu single terbaru dari Monita berjudul ‘’Tapak Hening’’ melalui tautan di bawah ini.

BACA JUGA - Angkat Kisah Perjalanan Sebuah Hubungan, Sheila Anandara Rilis ‘’Kereta’’

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner