NonaRia Menghadirkan Kembali Musik Klasik Indonesia Lewat Albumnya
Gaya musik NonaRia juga terinspirasi oleh musik-musik klasik Indonesia era 50-60an, dengan memadukan irama ragtime ceria dan lirik yang sederhana
NonaRia adalah trio perempuan berambut keriting dengan talenta musiknya yang unik, dimana Nesia Ardi (Vocal & Snare) bernyanyi sambil bermain snare drum, Nanin Wardhani (Piano/Akordeon) dengan permainan bergaya stride, yang berpadu dengan gesekan melodi dari Yasintha Pattiasina (violin). Grup ini akan merilis album perdana mereka pada akhir bulan Januari 2018, bertajuk NonaRia (self-titled). Album ini sendiri berisi 8 lagu orisinil yang diciptakan, diaransemen dan diproduseri oleh mereka sendiri.
Pada awal terbentuknya di akhir tahun 2012, NonaRia terdiri dari Nesia Ardi (vokal), Nanin Wardhani (piano) dan Rieke Astari yang memainkan akordeon. Lalu pada tahun 2016 Rieke Astari pindah domisili ke luar kota, dan digantikan oleh Yasintha Pattiasina pada violin hingga saat ini.
Ketiga anggota NonaRia merupakan musisi yang aktif tampil dalam skena musik yang berbeda. Yasintha Pattiasina kerap kali tergabung dalam Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Concert Orchestra, Nanin Wardhani aktif sebagai penata musik latar di beberapa film layar lebar, sedangkan Nesia Ardi dipercaya untuk menyanyikan kembali lagu Letnan Hardy dalam album Aransemen Ulang Lagu Orisinil Film Tiga Dara.
Menurut press release yang DCDC terima, album NonaRia merupakan impian bersama yang sudah lama dinantikan. Ditengah kesibukan masing-masing anggotanya, album ini akhirnya berhasil dirampungkan. Musik NonaRia bisa dinikmati berbagai kalangan dan lintas generasi. Lagu-lagu yang diciptakan terinpirasi oleh kejadian sehari-hari di sekitar kita, seperti lagu “Antri Yuk!” yang menggambarkan keadaan di jalanan ibukota, di mana budaya antri merupakan hal yang sangat langka; lalu ada lagu “Sayur Labu”, yang menggambarkan nikmatnya masakan rumahan khas Indonesia, dan juga lagu “Santai”, yang menceritakan suasana santai menikmati senja, dan sebagainya.
Gaya musik NonaRia juga terinspirasi oleh musik-musik klasik Indonesia era 50-60an, dengan memadukan irama ragtime ceria dan lirik yang sederhana. Untuk menguatkan image yang dibangun NonaRia dalam balutan musiknya, Ilustrasi sampul album pun disesuaikan dengan konsep musiknya, dengan melibatkan seorang illustrator grafis bernama Hari Prast, sampul album dibuat dengan konsep ilustrasi karakter komikal dari ketiga anggotanya.
Proses pengerjaan album NonaRia dibantu oleh beberapa musisi pendukung, seperti Maha Nimrod Purba dan Ahot Fenderico yang memainkan kontra bas, dan Junior Soemantri yang menyumbangkan suara merdu, beserta petikan gitarnya pada lagu “Sebusur Pelangi”.
Mulai tanggal 26 Januari 2018, album dalam bentuk fisik cakram digital sudah bisa didapatkan di toko-toko yang didistribusikan oleh Demajors Independent Music Industry (DIMI) di seluruh Indonesia. Rilisan digital dapat diperoleh di channel iTunes, Spotify, Joox dan beberapa platform digital satu minggu setelah rilisan fisik beredar.
Mendengarkan album penuh NonaRia seperti membawa kita ke dalam mesin waktu, mulai dari lirik lagu, pilihan nada, hingga karakter audio yang menyerupai piringan hitam. Bagi generasi terdahulu, musik NonaRia niscaya akan membawa kita ke kenangan masa lalu. Bagi generasi yang lebih muda, inilah musik Indonesia dimasa lalu dengan warna masa kini.
Comments (0)