Ratee: Tiga Kepala, Satu Irama Eksploratif dari Makassar

Ratee: Tiga Kepala, Satu Irama Eksploratif dari Makassar

Dari jantung kota Makassar, muncul sebuah nama baru yang menjanjikan warna segar dalam skena musik alternatif Indonesia: Ratee (dibaca: ra-te). Trio ini bukan sekadar band pendatang baru—mereka adalah manifestasi dari pertemuan tiga disiplin seni yang berbeda namun saling menyatu, yakni musik, visual, dan performans.

Beranggotakan Alghifahri Jasin (vokal), Adi Gunawan (bass), dan Saleh Hariwibowo (gitar), Ratee terbentuk pada awal tahun 2024. Namun, latar belakang para personelnya menunjukkan bahwa perjalanan kreatif mereka sudah jauh lebih dulu dimulai—dan justru itulah yang menjadi fondasi unik Ratee.

Agi, sang vokalis, bukan hanya musisi. Ia adalah penulis puisi, aktor, dan seniman performance art yang pernah merilis buku Kunjungan Singkat ke Rumah (Endnote Press, 2022) dan album puisi Rencana Penipuan (2021). Kehadirannya membawa nafas teaterikal dan literer dalam konstruksi musik Ratee.

Gun, si basis, adalah ilustrator yang dikenal lewat nama pena “benangbaja”. Dengan pengalaman di industri kreatif dan visual, Gun menjadi motor visualisasi artistik Ratee—baik untuk artwork, identitas visual, maupun presentasi panggung.

Sementara Ale, sang gitaris, sudah lama berkecimpung dalam dunia musik sebagai bagian dari Kapal Udara dan duo Ruangbaca. Ia juga memegang peran sebagai produser musik untuk proyek-proyeknya, termasuk Ratee sendiri. Musiknya membawa kepekaan struktur dan produksi yang matang dalam setiap rilisan band ini.

Hasilnya? Ratee tidak tampil hanya sebagai unit musik, tetapi sebagai performa lintas-medium yang menyatukan suara, gambar, dan tubuh. Sebuah pengalaman pertunjukan yang menggabungkan sensibilitas puisi, seni visual, dan eksplorasi musikal dalam satu kesatuan.

Langkah perdana mereka menuju album debut diawali dengan merilis empat single sekaligus pada Oktober 2024: Biar, Maut, Kesepian, dan Market. Keempat lagu ini merupakan refleksi eksistensial yang mengulik sisi terdalam pengalaman manusia.

  • “Biar” berbicara tentang penerimaan nasib. Lagu ini mendorong pendengarnya untuk menjadikan penderitaan sebagai sumber daya hidup, bukan sebagai beban.

  • “Maut” menyelami kesadaran akan kematian. Track ini menangkap ketegangan abadi antara hidup yang terus berjalan dan kematian yang selalu mengintai.

  • “Kesepian” menangkap ruang hampa yang tidak bisa diisi oleh apapun. Sebuah mediasi musikal tentang kekosongan yang membayangi segala upaya pemenuhan.

  • “Market” adalah kritik terhadap sistem ekonomi yang membentuk ilusi kebebasan, namun berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Keempat lagu ini kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk merasakan nuansa khas Ratee—sebuah perpaduan pemikiran mendalam, kejujuran artistik, dan kebaruan sonik.

Dengan pendekatan multidisiplin yang mereka bawa, Ratee hadir bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk dirasakan, dilihat, dan dipikirkan. Sebuah langkah awal yang kuat dari band yang menjanjikan lebih dari sekadar musik.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner