Satu Dekade Bermusik, Dirayakan Fraud Lewat Album ‘Sanctuary’

Satu Dekade Bermusik, Dirayakan Fraud Lewat Album ‘Sanctuary’

Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Fraud

Dalam album Sanctuary ini Fraud berkesperimen dengan proses kreatif penulisan lagu dan direkam di dua studio yang berbeda, guna mewujudkan kualitas sound yang paripurna

Menjalani satu dekade bermusik tentu bukan pencapaian yang sembarangan, mengingat hal tersebut harus ditebus dengan banyak hal, dari mulai dinamika naik turun, hingga percikan bara perpecahan, mengingat ada beberapa kepala di dalamnya. Pun begitu dengan yang dialami oleh sebuah kolektif cadas, Fraud, kala band yang beranggotakan Bayu Hastutama (vokal), Keceng (gitar), Soullamb (bas), dan Rama Nada (dram) ini menapaki usia 10 tahun bermusik bersama.

Menandai pencapaian umur satu dekade, diaplikasikan mereka lewat sebuah peluncuran album ketiganya yang berjudul Sanctuary. Album ini sendiri dirilis lewat Blackandje Records pada akhir Agustus 2020 kemarin. Diakui oleh mereka jika perilisan album Sanctuary ini sekaligus sebagai monumen peringatan satu dekade  perjalanan mereka.

Lebih jauh bercerita tentang albumnya, menurut rilisan pers yang DCDC terima, dalam album Sanctuary ini Fraud berkesperimen dengan proses kreatif penulisan lagu dan direkam di dua studio yang berbeda, guna mewujudkan kualitas sound yang paripurna. Studio tersebut adalah Inferno Studio (Surabaya) serta Fun House Studio (Bandung). Dibanding dua album sebelumnya, komposisi musik Fraud di album Sanctuary terdengar lebih metalik, lewat riff gitar yang thrashy, bersilang sengketa dengan beat dram yang eksplosif dari drummer anyar mereka, Rama Nada. Terlebih, deru nyalak suara parau Bayu Hastutama membuat album ini terdengar lebih gelap dibanding album-album sebelumnya.

Selain itu, Fraud juga bereksperimen dengan penulisan lirik. Jika dirangkai, tiap-tiap fragmen yang termaktub di tiap repetoar mereka, akan membentuk sebuah kisah terkait mitos yang mulai ditepikan oleh zaman. Salah satunya dimampatkan dalam klip video pertama mereka yang bertajuk “The Prophechy”.

Dalam proses penulisan lirik, di album ini Fraud berupaya untuk merangkai sebuah kisah tentang manusia-manusia yang menyangkal doktrin lunatik warisan leluhurnya. Nama Sanctuary atau yang berarti ‘suaka’, dimaksudkan Fraud sebagai ruang eksplorasi manusia untuk menemukan kebenaran masing-masing. Lewat caranya masing-masng. Sekaligus, album ini adalah deklarasi sikap dari Fraud yang mengutuk kelompok-kelompok intoleran, yang memaksakan dunia menjadi seragam, dan mengikuti jalan mereka, para pemuja dogma lama dan mengandaikan kebenaran adalah milik mereka semata.

Narasi yang dibangun oleh Fraud, diwujudkan dalam ilustrasi karya Redi Murti (seniman yang kerap menjadikan konflik horizontal dan narasi marjinal sebagai landasan kekaryaannya. “Di album ini, saya mau menceritakan tentang upaya sebuah generasi keluar dari dogma sesat yang diwariskan leluhurnya. Menurutku, tidak semua doktrin warisan harus ditelan mentah-mentah. Kita sebagai manusia memiliki hak untuk mencari kebenaran menurut kita masing-masing, dan memangkas rantai doktrin,” ujar Bayu Hastutama, vokalis Fraud.

BACA JUGA - Hands Upon Salvation Rilis Video "Stir The Shitstorm"

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner