‘Transisi’, Ketika Alam Bawah Sadar Mampu Disimbolkan Oleh Musik

‘Transisi’, Ketika Alam Bawah Sadar Mampu Disimbolkan Oleh Musik

Inilah sebuah karya album baru dari tiga musisi berpotensi tanah air, yang terbentuk dalam satu aliansi bernama Ligro.

Baru-baru ini, sebuah nama grup musik yang telah terbentuk lama dan diisi oleh musisi ternama, kembali terkabar. Adalah grup musik bernamakan Ligro, yang baru saja merilis album ke-4 nya bertajuk Transisi. Dan lewat karya ini pula, adalah kelanjutan dari karya musik mereka yang terangkum lewat tiga album sebelumnya. Sebut saja seperti Dictionary I (2009), Dictionary II (2012), dan Dictionary III (2015).

Seperti yang dikenal oleh beberapa orang mengenai grup beraliran eksperimental ini. Ligro merupakan sebuah kelompok musik, yang beranggotakan orang-orang lama dan penting dalam ranah musik Indonesia. Mulai dari penggebuk tabuh dari grup musik Gigi, Gusti Hendy yang pada proyek ini pun masih memlihi drum sebagai senajatnya dalam bermusik. Lalu Agam Hamzah yang merupakan seorang pengajar di Farabi Music School. Dan terakhir adalah Adi Dharmawan yang semakin memperlengkap kebutuhan trio asal Ibukota ini dengan imajinasi bermusiknya. Dan mengenai imajinasi itu sendiri, Ligro atau anagram dari sebutan ‘Orgil’, menyisipkan unsur eksperimental yang sangat kentara di album Transisi ini.

Berupa imajinasi alam bawah sadar lewat partitur musik beraliran progressive-nya, Ligro semakin meyakinkan kalau mereka adalah band yang hanya bisa dinikmati beberapa khalayak saja. Layaknya sebuah eskperimen, Ligro membuat pendengarnya lebih bermain dan menuju ke berbeagai dimensi yang diwakilkan oleh tempo musik sulit direpresentasikan. Seperti apa kira-kira materi yang mereka tawarkan di album ke-4 ini, silahkan saja representasikan sendiri. 

Sumber foto : Press rilis Ligro 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner