"The Ashes That We Shared", Akhir Trilogi Single Gergasi Api

Foto dan artwork didapatkan dari siaran pers. Kredit tidak disertakan.

Alexandra J. Wuisan dan Ekyno dalam kolektif Gergasi Api akhirnya menyelesaikan trilogi single yang sudah mereka mulai sejak Maret lalu. Single bertajuk "The Ashes That We Shared" didapuk menjadi penutup trilogi dengan rona dreampop yang merasuk di dalamnya.

Tepat di awal bulan Mei ini, di bawah payung Anoa Records, Gergasi Api merilis single penutup dari trilogi yang telah mereka hadirkan sejak Maret 2021 lalu. Lagu berjudul “The Ashes That We Shared” dirilis per tanggal 6 Mei secara digital. Kali ini, adalah eksplorasi dari dua nama yang besar di Bandung, dan pernah dikultuskan dalam skena arus pinggir: Alexandra J. Wuisan (Sieve) dan Ekyno (Full of Hate, Plum) dalam berbagai spektrum musik Gergasi Api yang luas.

Berdiri di tahun 2020 yang porak poranda, di tengah pandemi yang dikutuk jutaan manusia di bumi, Gergasi Api terpengaruh dari berbagai macam musik yang didengar dari musik-musik era tahun 70-an sampai sekarang; dari metal, post metal, industrial, elektronik, shoegaze, goth, darkwave, rock dan pop. Sosok Alexandra J. Wuisan sendiri dikenal memiliki tingkat nada vokal yang khas dengan karakter uniknya, terinspirasi oleh tiga vokalis idolanya: Tori Amos, Stevie Nicks, dan Siouxsie.

Ditelisik dari sisi musiknya, lagu ini cukup berbeda dari tembang “The Flames That We Shared” dan “Red Knight”, dua single sebelumnya yang sudah disebar di berbagai kanal layanan musik streaming. Rona dreampop merasuk sepenuhnya dari lagu “The Ashes That We Shared” ini, dari awal hingga akhir dengan cakupan beat musik racikan Ekyno yang penuh warna. Suara Alexandra J. Wuisan membalut lagu ini dengan lirik yang begitu ekspresif membuatnya terasa personal bersamaan.

“'The Ashes That We Shared' adalah akhir final dari trilogi single kami,” kata Alexandra J. Wuisan. Dirinya menuliskan lirik dari ketiga lagu Gergasi Api yang berpusar pada alur kosmik yang tak putus antara mati dan kehidupan. Sepanjang 2020, Alexandra J. Wuisan menuangkan kegelisahannya tentang kepiluan bagaimana kita sebagai manusia harus menghadapi perpisahan tak hanya dengan orang yang dikasihi, tetapi juga secara spiritual. “Lagu ini intinya mencoba menafsirkan bagaimana kisah mitologi burung phoenix, di mana mati dan terlahir kembali adalah sebuah proses yang kita lalui sebagai manusia. Terlahir menjadi pribadi yang baru dan kuat, ketika kita melaluinya dengan empati dan tulus,” tambahnya lagi.

“The Ashes We Shared” sendiri memang dipilih sebagai penutup trilogi single, namun bukan berarti akhir dari Gergasi Api dalam mencipta karya. Jika tidak ada arah melintang, Gergasi Api berencana merilis EP pada akhir tahun 2021 ini. Beberapa rancangan rencana ke depan sebagai band baru, meski muka lama pun sudah digagas. “Kita tahu band ini adalah band baru, dan sekarang sedang merancang format band live. Semoga ketika pandemi ini berakhir, Gergasi Api bisa hadir sebagai satu unit musik yang solid,” kata Ekyno.

Tak hanya itu, Gergasi Api juga punya sebuah rencana seru bersama Anoa Records, label yang menaungi mereka. Mereka akan merilis split format kaset bersama sebuah band Inggris, asal Brighton, yang sama-sama beranggotakan dua orang. “Tunggu saja yah, nanti kami akan kabarkan namanya. Intinya mereka tertarik dan kami juga suka musik mereka,” kata Alexandra J. Wuisan.

BACA JUGA - 22 Tahun Berlalu, Sieve Kembali Hadir Merilis ‘Biara’ EP

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner